| "DUH, KOK, AKTIF BANGET, SIH?!" Bayi aktif diturunkan dari ibu, tapi lingkungan yang menentukan apakah ia akan selamanya aktif atau tidak. Yang penting, jangan redam keaktifannya tapi salurkan. Kreativitasnya lebih berkembang, lo, dibanding bayi yang "lembut". Anak perempuan saya enggak pernah bisa diam, maunya bergerak terus. Kalau dipangku, dia enggak mau; maunya turun seperti mau ditetah. Padahal, umurnya baru 4 bulan. Saya dan seluruh keluarga sampai kewalahan, lo, kalau sedang menggendongnya. Bagaimana, ya, cara mengasuh bayi yang aktif?" keluh Ibu Elsin Nurhayati di Cakung dalam suratnya kepada nakita. Punya anak kelewat aktif memang kerap merepotkan. Saat ganti popok atau pakai baju, misal, bisa menjadi ajang "adu gulat" lantaran ia bergerak terus. Belum lagi kalau ia sudah bisa merangkak, duh, bikin kita sering "senam jantung". Habis, merangkaknya cepat sekali. Sedetik saja kita beralih pandang, bisa-bisa ia sudah menghilang ke dapur atau malah tengah "memanjat" anak tangga. Bahaya, kan? "Sebenarnya, ciri-ciri bayi aktif sudah bisa dikenali sejak lahir," ujar Lidia L. Hidajat, MPH. Secara kasat mata, misal, bayi aktif akan menangis lebih nyaring dibanding bayi lain. Gerakan pupil matanya lebih cepat meskipun pandangannya belum terfokus untuk jangka waktu tertentu. "Gerakan tangan dan kakinya juga lebih kuat. Begitu pula genggamannya." Setelah lebih besar, pada umumnya reaksi ketika mendengar suara dan melihat benda-benda bergerak, merasa sakit dan tak nyaman, juga cenderung lebih cepat ketimbang bayi-bayi yang tergolong lembut. Malah ada, lo, ahli yang bilang, sejak di kandungan pun sudah bisa diketahui aktif-tidaknya bayi, yakni lewat gerakannya. Bila gerakannya sangat aktif, besar kemungkinan setelah lahir akan menjadi bayi yang aktif. MENURUN DARI IBU Faktor bawaan ternyata berpengaruh terhadap aktif-tidaknya seorang bayi. "Jadi, ada faktor-faktor internal seperti sifat dan temperamen yang mempengaruhi aktif-tidaknya seorang bayi," jelas Lidia. Adapun yang menurunkan faktor bawaan ini adalah ibu. "Malah ada ahli yang bilang, sifat maternal ini berpengaruh 100 persen," lanjut dosen pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini. Kendati demikian, tak selalu aktifnya bayi akan dibawa terus hingga dewasa. "Bisa saja waktu kecilnya sangat aktif, namun ketika dewasa menjadi orang yang sangat hati-hati." Soalnya, perkembangan seorang anak, selain dipengaruhi faktor bawaan, juga faktor lingkungan. Misal, keluarganya dalam melakukan segala sesuatu serba lambat, termasuk dalam memperlakukan anak, sehingga si bayi pun terpengaruh. "Tapi jika bayi tumbuh dalam keluarga yang serba cepat, ia pun akan jadi bayi aktif." Jadi, tergantung bagaimana si bayi dikondisikan oleh keluarganya. Lagi pula, pada saat dewasa, orang, kan, sudah memiliki kontrol diri dan ada aktivitas yang bisa menghambat keaktifannya. Misal, ia bekerja di laboratorium. Nah, bidang pekerjaan ini, kan, menuntut kehati-hatian. Kalau ia grasa-grusu, bisa-bisa semua campuran kimianya jadi berantakan, dong. Kan, celaka! JANGAN REDAM KEAKTIFANNYA Toh, Ibu-Bapak tak perlu cemas punya bayi aktif karena hal ini normal saja. "Justru bayi pasiflah yang harus dikhawatirkan," tukas Lidia. Takutnya, ada aspek-aspek yang tak berkembang sempurna. Yang penting, kenali sifat-sifat si bayi; kapan saja ia menunjukkan gerakan dan reaksi lebih kuat dari momen-momen yang lain. "Biasanya gerakan yang aktif atau lebih aktif juga berkaitan dengan kadar emosi yang meningkat, baik hal-hal yang menyenangkan atau sebaliknya, hal-hal yang justru membuatnya tak nyaman." Kemudian, jangan pernah meredam keaktifannya atau melarang. Sebaiknya cari cara untuk mengalihkan perhatiannya atau salurkan aktivitasnya yang berlebih itu. "Jika ia banyak melakukan gerakan tangan, perbanyaklah permainan-permainan yang membutuhkan gerakan tangan namun tak membahayakannya." Pada bayi kecil, misal, bisa dengan memberi mainan gantung di boksnya. Kalau ia sudah agak besar, berikan mainan susun balok. "Dengan ia sering menggunakan tangannya, maka ia akan capek sendiri. Bukankah setiap bayi punya kapasitasnya sendiri? Jadi, pada waktu tertentu ia juga akan merasa capek." Jika ia sudah bisa merangkak ke sana ke mari, perhatikan lingkungan sekitarnya agar ia tetap nyaman dan aman untuk bisa leluasa bergerak. Misal, hindarkan ia dari ujung-ujung runcing furniture yang membuatnya dapat terbentur; bila rumah bertingkat atau terdiri dari banyak bidang turun-naik, beri pintu pembatas ruang. Jangan lupa juga untuk menghindarkan bayi dari pernik-pernik yang mudah pecah dan bisa melukainya, benda-benda kecil yang mudah tertelan, maupun benda-benda sepele seperti tusuk gigi, garpu, dan lainnya. Juga perlu untuk mengamankan stop kontak, kabel telepon, dan kabel-kabel lain yang mungkin luput dari perhatian. TAK TERLALU BUTUH STIMULUS Jadi, kendati merepotkan, namun tak berarti kita harus menerapkan disiplin kaku pada bayi aktif. Terlebih lagi di usia ini, ia justru masih membutuhkan banyak rangsangan untuk pertumbuhan otot-otot dan syarafnya. "Jika banyak dihambat atau dilarang, bisa-bisa bayi yang aktif malah terhambat pertumbuhannya," kata Lidia. Nah, Ibu-Bapak tak ingin hal demikian terjadi, kan? Perlu diketahui, ketika bayi aktif berkembang menjadi anak-anak, biasanya keterampilan motorik mereka akan lebih baik daripada bayi-bayi yang "lembut". "Kreativitas bayi yang aktif juga lebih mudah dirangsang dan lebih berkembang karena pengalaman yang lebih banyak dan eksplorasi yang lebih banyak terhadap hal-hal baru." Dengan demikian, ia tak terlalu membutuhkan stimulus karena sudah dapat memenuhi kebutuhan geraknya. Yang penting, bagaimana orang tua memahami dan mengarahkan aktivitasnya. Seperti dikatakan Eisenberg dkk. dalam bukunya yang sudah dialihbahasa, Bayi Pada Tahun Pertama, bayi aktif adalah tantangan yang terus-menerus karena ia lebih sedikit tidur, gelisah pada saat menyusu, dan selalu berisiko menyakiti dirinya sendiri, tapi mereka juga dapat menjadi sumber kegembiraan karena biasanya mereka sangat waspada, banyak minat dan menarik, serta cepat bisa. Kendati demikian, bukan berarti bayi aktif identik dengan ber-IQ tinggi, lo. Bila ada orang yang mengaitkan hal tersebut, menurut Lidia, lebih karena si bayi giat melihat ke sana ke mari atau lebih aktif bereksplorasi sehingga pengalamannya pun banyak. "Dengan begitu, perkembangan IQ-nya mungkin akan lebih cepat ketimbang bayi yang enggak aktif." Faras Handayani |
0 komentar:
Posting Komentar